Member Login

Lost your password?

Sign Up!

RumahDakwah
RumahDakwah
» Clinic Hukum Islam

Tanya : Pengertian Takdir Mubram dan Takdir Mu`alaq ?


Pertanyaan:

Dalam suatu pengajian, saya pernah mendengar dari seorang ustadz yang menerangkan bahwa takdir itu ada dua macam, yaitu takdir mubram dan takdir mu`allaq. Akan tetapi saya kurang begitu jelas atas penjelasannya. Bagaimanakah pengertian kedua takdir tersebut?

Jawaban:

Penjelasannya sebagai berikut:

a. Takdir Mubram

Allah sudah tahu apa yang akan terjadi di dunia dan di akhirat, tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagi Allah, sekalipun hal itu belum terjadi.

Sebagai tamsil, seorang insinyur yang pandai membuat sebuah gedung pencakar langit. Insinyur itu sudah mengetahui betul jauh sebelum gedung itu selesai dibangun; bagaimana bentuknya gedung itu, berapa banyak besi terpakai, pasir, semen, kapur, cat, serta jumlah pintu, jendela, kamar, dan tangganya.

Allah adalah Dzat Yang Maha Pencipta (Al-Khaliq), Maha Pembentuk (Al-Mushawwir), Mahakuasa (Al-Qadir), Maha Mengetahui (Al-`Alim). Ia sudah tahu apa yang telah terjadi dan begitu pula yang belum terjadi.

Si Fulan umurnya akan sekian, rezekinya sekian, semua sudah diketahui Allah dalam alam azali karena Ia yang menciptakan semuanya itu.

Menurut para Ulama Mutakallimin, ini namanya takdir dalam Ilmu Allah. Dalam hal ini Allah SWT telah menyatakan dalam Al-Qur`an:

"Dia Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS. Al-Baqarah: 29)

Perkataan "segala sesuatu" itu adalah perkataan umum yang meliputi dunia dan akhirat, langit dan bumi, yang dahulu dan yang sekarang serta yang akan datang. Pendeknya semua itu sudah ada dalam Ilmu Allah. Takdir yang ada dalam Ilmu Allah ini tidak akan berubah dan tidak akan dapat diubah oleh situasi dan kondisi bagaimanapun juga kecuali dengan kehendak-Nya. Inilah yang dinamakan takdir mubram, atau "takdir yang sudah pasti". Allah berfirman:

"Keputusan di sisi-Ku tidak dapat diubah oleh siapa pun dan aku sekali-kali tidak menganiaya hamba-hamba-Ku." (QS. Qaaf: 29)

Seorang mufassir kenamaan dari kalangan Tabi`in, yang bernama Imam Mujahid, menerangkan arti ayat ini adalah:

"aku telah memutuskan apa yang sudah Aku putuskan." (Kitab Tafsir Ibnu Katsir, Juz VI, halaman 404)

b. Takdir Mu`allaq

Sesunghnya takdir-takdir untuk makhluk ini telah dituliskan pada Lauh Mauhfuzh, sebelum langit dan bumi dijadikan.

Dalam sebuah hadits sahih, Rasulullah SAW bersabda:

"Takdir-takdir untuk makhluk ini telah ditetapkan oleh Allah, lima puluh ribu tahun sebelum dijadikan langit dan bumi." (Riwayat Muslim dari Abdullah bin Amr bin Al-`Ash; Kitab Shahih Muslim, Juz II, halaman 457)

Seorang sahabat yang terkenal ahli dalam bidang tafsir dan telah mendapat gelar "Turjumanul Qur`an", yaitu Ibnu Abbas r.a., telah menerangkan, sebagaimana telah dikutip oleh Imam Al-Qurthubi dalam kitab Tafsirnya, Al-Jami` Li Ahkamil Quran (Juz XVII, halaman 258), bahwa setelah Allah menjadikan qalam (pena), maka Allah berkata kepadanya: "Tulislah!" Pena itu pun menuliskan apa yang akan terjadi sampai hari kiamat. Pena itu menulis di Lauhil Mahfuzh.

Tersebut dalam kitab Shafwatut Tafasir karangan Syeikh Ali Ash-Shabuni keterangan di bawah ini:

"Sesungguhnya segala perkara itu sudah ditakdirkan Allah di alam azali, telah ditulis di Lauh Mahfuzh sebelum dijadikannya." (Kitab Shafwatut Tafsir, Juz III, halaman 328)

Takdir yang tertulis pada Lauh Mahfuzh ini masih menerima perubahan jika Allah yang menghendakinya.

Allah SWT berfirman:

"Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia Kehendaki), dan di sisi-Nya terdapat Ummul Kitab." (QS. Ar-Ra`d: 39)

Imam Al-Qurthubi ketika menafsirkan ayat tersebut, beliau berkata,

"Semua takdir Allah yang tertulis (di Lauh Mahfuzh) itu bisa di hapus jika Ia menghendakinya, atau Ia tetapkan sesuai kehendak-Nya." (Kitab Tafsir Al-Jami` Liahkamil Qur`an, Juz IX, halaman 329)

Penghapusan atau penetapan itu sesuai dengan apa yang ada pada Ummul Kitab, yakni Ilmu Allah yang azali.

Syeikh Ibrahim Al-Bajuri dalam kitabnya Tuhfatul Murid Syarah Jauharatut Tauhid menerangkan sebagai berikut:

"Ummul kitab, yaitu pokok atau pangkal dari Lauh Mahfuzh, yakni Ilmu Allah Ta`ala yang tidak menerima hapusan dan tidak menerima penetapan. Adapun Lauh Mahfuzh, menurut pendapat yang benar, menerima hapusan dan penetapan Allah." (Kitab Tuhfatul Murid Syarah Jauharatut Tauhid, halaman 95)

Keterangan Syeikh Al-Bajuri ini dapat pula kita baca dalam kitab Sirajuth Thalibin Syarah Minhajul `Abidin, Juz I, halaman 23), keterangan Syeikh Ihsan Muhammad Dahlan Al-jampasi.

Yang dapat menghapus atau mengubah takdir yang tertulis pada Lauh Mahfuzh, menurut keterangan Rasulullah SAW antara lain adalah doa.

Dalam kitab Sunan Ibnu Majah disebutkan sebuah hadits di bawah ini:

"Dari Tsauban, ia berkata, Rasulullah SAW telah bersabda: Tidak ada yang dapat memanjangkan umur kecuali perbuatan baik, dan tidak ada yang dapat menolak atau mengubah takdir kecuali doa. Dan bahwasannya seseorang benar-benar terhalang dari rezeki karena ia melakukan sesuatu dosa." (Riwayat Ibnu Majah, kitab Sunan Ibnu Majah, Juz I, halaman 47)

Hadits ini terdapat pula dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir, Juz IV, halaman 102, karangan Al-Hafizh Isma`il bin Katsir.

Ulama mutakallimin mengistilahkan "takdir yang tertulis di Lauh Mahfuzh, tatapi masih menerima perubahan" dengan istilah Takdir Muallaq, takdir yang belum pasti.

Masalah takdir ini amatlah pelik dan sukar sekali untuk dibahas karena menyangkut masalah gaib, sehingga ada ulama yang berkata "Tidak begitu perlu membahasnya, yang penting kita meyakini dan mengimani adanya takdir Allah, sebagai rukun iman yang keenam."

Referensi:

- QS. Al-Baqarah [2] : 29.
- QS. Qaaf [50] : 29.
- QS. Ar-Ra`d [13] : 39. -  HR. Muslim. Shahih Muslim. Juz II, hal. 457.
- HR. Ibnu Majah. Sunan Ibnu Majah. Juz I, hal. 47.
- Al-Hafizh Isma`il bin Katsir. Tafsir Ibnu Katsir. Juz IX, hal. 102.
- Imam Mujahid. Tafsir Ibun Katsir. Juz VI, hal. 404.
- Imam Al-Qurthubi. Al-Jami` Li Ahkamil Qur`an. Juz XVII, hal. 258 & Juz IX, hal. 329.
- Syeikh Ali Ash-Shabuni. Shafwatut Tafsir. Juz III, hal. 328.
- Ibrahim Al Bajuri. Sirajuth Thalibin Syarah Jauharatut Tauhid. Juz I, hal. 23 & 95.
- KH. Drs. Ahmad Dimyathi Badruzzaman. Ummat Bertanya Ulama Menjawab Seri A. hal. 60-64.

Baca Juga :

Tanya : Kedudukan Hukum Shalat Qabliyah Magrib ?

Tanya : Hukum Membaca "Sami`allahu liman Hamidah" ?

Tanya : Hukum Mengonsumsi Kopi Luwak ?
Konten halaman ini dilindungi!
Untuk pengutipan harap disertakan tautan link ke halaman artikel di web ini.
Terima Kasih.
DMCA.com

2 komentar pada artikel ini

GeraldyRafi
16 Mei 2013 - 21:57:26 WIB

Terimakasih mas .. izin copas ya ..

najla
23 Maret 2014 - 16:49:44 WIB

Makasih udh ngebantu banget

Kirim Komentar Anda

Pembaca dapat mengirimkan komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar bukan merupakan pandangan, pendapat ataupun kebijakan rumahdakwah.net dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Pembaca dapat melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. rumahdakwah.net akan menimbang setiap laporan yang masuk dan dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar tersebut.

rumahdakwah.net berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.

Silahkan Login atau Register
untuk kirim komentar anda